Delicious LinkedIn Facebook Twitter RSS Feed
Diberdayakan oleh Blogger.

Gadget Meroket

Gadget...
Memilih derita demi kuota
Tidur kurang, sebab begadang
Hati menjerit, kala kuota limit
Shalat terlewatkan, sebab stalking mantan

Gadget...
Hiruk pikuk dunia kekinian
Duduk barengan, namun senyum sendirian
Orang tua ikut jadi korban
Sebab anak semakin kebangetan

Gadget...
Bersama, tapi tak ada sapa
Bisu di dunia nyata
Memilih eksis di dunia maya

Gadget... "Menjauhkan yang dekat, Mendekatkan yang jauh"






*Sajak ini ditulis saat agenda diklat tentang dunia ilmu komunikasi. Kami yang sebagai mahasiswa komunikasi semakin miris dengan perkembangan gadget yang terus meroket, namun dihiasi masalah yang berderet.


Pentas cerita di Depok | Penghujung April malam 2016

Da'wa on Writing (Da'wa Creative)



DA’WA IS SO VARIATED. NOT ONLY IN THE FORM OF LECTURES, BUT ALSO THROUGH THE FILM, WRITING, ANIMATION, PICTURES, AND OTHERS.

Surat Terbuka untuk Rektor Anyar: Mahasiswa perlu Rangkulan

Setelah sekian bulan gak nge-blog, kali ini mau coba ikut event nulis surat terbuka untuk rektor baru yang di adakan LPM INSTITUT UIN Syahid Jakarta.
Bismillah, semoga masih dalam kode etik :D

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Salam Takzim Untukmu, Nakhoda baru kami di Kampus Peradaban Islam

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Sebelum berceloteh hambar, izinkan ‘hamba’ mengulur tangan memintamu untuk melirik barang sekilas saja. Bisa dibilang, 'hamba' hanyalah bibit yang baru saja tertanam di semesta Peradaban Islam ini. Yang bahkan ketika perdana menapaki kaki, tersorot netra pada gedung-gedung yang menjulang tinggi tanpa kepongahan dan hingar-bingarnya lautan manusia penuh warna.

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Sebagai bibit yang baru ditanam, bisa apa ‘hamba’ ini pak? Teman tak banyak, wawasan terbatas, aktifitas monoton apalagi prestasi, NOL!
Ketika OPAK, taukah Bapak siapa yang paling ‘hamba’ cari? REKTOR Kampus Peradaban Islam! ‘Hamba’ bertanya-tanya seperti apa rektor di kampus ini. Bagaimana sosok pak Komaruddin Hidayat yang baru ‘hamba’ tahu dialah Sang Rektor. Mungkinkah ‘hamba’ bisa melihatnya secara dekat, karena rasanya masih mustahil jika ‘hamba’ yang masih bibit baru ini untuk bisa ber-say hello dengannya.

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Hari terus berlari, kian lama ‘hamba’ mulai bisa beradaptasi di Kampus Peradaban Islam ini. Namun, tak jua ‘hamba’ temukan sosok rektor di tiap sudut kampus. Perdana dan terakhir lihat pun kala upacara pembukaan OPAK di lapangan sana. Dengan lautan manusia dan teriknya matahari, ‘hamba’ tidak terlalu jelas mendengar bait-bait sambutannya. Dari kejauhan, ‘hamba’ mengamati ketika beliau di kawal begitu ketat. “Oh, ternyata seperti itu sosok rektorku.”
Kemana saja beliau? Mungkin dia begitu sibuk dengan jam terbangnya yang tinggi. Atau, bisa saja dia sudah sangat nyaman duduk di singgasana rektor yang terkesan begitu pongah jika terlihat dari luar. “Pak, ingin sekali rasanya bibit yang baru tertanam ini memasuki ruang itu.”

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Entah senang atau sedih, ketika ‘hamba’ mendengar bahwa Kampus Peradaban Islam tercinta ini akan mengadakan transisi pergantian rektor baru.
Sedih, karena ‘hamba’ masih belum merasakan efek dari sosok rektor. Bagaimana karakternya, apa saja kebijakan-kebijakannya serta bagaimana gaya kepemimpinannya selama dua periode menakhodai semesta UIN Jakarta yang kini berjuluk Kampus Peradaban Islam.
Senang, karena jika ada rektor baru akan ada harapan-harapan baru yang bersemi. Memunculkan asa untuk lebih bisa mengenal sosok pemimpin ‘hamba’. Bukankah pemimpin baru lahir bersama sejuta harapan baru? Berharap itu tak sekedar bualan tanpa dosa.

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Dari bibit yang baru saja tertanam, ‘hamba’ ucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai rektor baru kami periode 2015-2019. Semoga syukur dan tawaduk menghiasi hati Bapak sebagai ‘pemenang’.
Pak, tentu banyak asa dan cita-cita yang membinari netra kami pada Bapak. ‘Hamba’ hanya satu dari dua puluh ribu mahasiswa yang ingin langsung menyampaikan semua itu lewat deretan aksara hambar ini.
Pak, lewat kisah yang terukir tadi semoga Bapak bisa memahami seperti apa keinginan kami terhadap Bapak. Kami ingin di rangkul. Kami ingin mendapat bimbingan dan perhatian lebih intim. Kami ingin diboyong bersama mendaki puncak-puncak emas.

Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Melihat rancangan visi-misi Bapak terhadap UIN memunculkan kerut di dahi ‘hamba’. ‘Hamba’ setuju dengan visi-misi Bapak mengenai channel-channel yang ingin Bapak perluas di kancah internasional, sebab itulah hak pemimpin. Hanya saja, terlihat dari situ jika Bapak lebih ingin memberdayakan para dosen. Lalu bagaimana dengan para mahasiswanya?
‘Hamba’ khawatir jika Bapak memfokuskan pada para dosen untuk Go internasional, lalu Bapak lupa dengan kami aktor terpenting di kampus ini. ‘Hamba’ sepakat jika pengalaman akademik dosen meningkat maka akan menguntungkan mahasiswa juga. Namun, cobalah Bapak berpikir sejenak.
Sekali lagi ‘hamba’ katakan, kami ingin lebih dirangkul Pak.

Padamu, Prof. dr. Dede Rosyada!
Lewat organisasi, UKM, LSO maupun komunitas di kampus kami bereksplorasi. Meretas kreatifitas tanpa batas. Lewat seminar dan diskusi publik kami beropini. Mengkritisi kejanggalan dinamika dunia. Lewat pengajaran kami belajar di kelas. Mencari bekal ilmu untuk kemaslahatan bersama.
Mampirlah sebentar saja Pak. Pintu selalu terbuka, menanti dengan setia nakhoda untuk sekedar menyapa.

Salam rindu untuk pemimpin baru, dari bibit yang belum lama tertanam di semesta Peradaban Islam!
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Its.. oke, Aku kembali datang :-) Setelah sekian lama terperangkap dalam kebuntuan aksara. Hiks :-(
Lagi! Kali ini masih tentang kerinduan. Satu hal yang terkesan klasik, namun selalu jadi hal yang menarik ^_^

(PUISI)

KENANG MEMORI USANG

Mungkinkah hanya memori usang
Menggelora selaksa mentari siang
Menjerit menunggu sang petang
Juga malam kelam meraba bintang

Aku benci bengisnya waktu
kala merekam bait keindahan
Tawa, tangis berbalut kemesraan
pernah kita cumbu pada lembar biru

Pernahkah kau bertanya pada semilir angin
tentang satu hal yang ku ingin
Maukah kau berbisik pada rembulan
menyampaikan rerasa yang tersimpan
Bicaralah pada harum tanah
katakan! Belenggu ini buatku resah

Ini hanyalah rasa yang membatu
membelenggu pada lidah yang kelu
Biar ku sampaikan pada Pemilik Waktu
mengharap tak sekedar baitbait semu

Memori usang
Melayang
Kenang
Indah
Ah!

Hometown, 12 April '14

"Senja Cinta, Cinta Senja", Puisikah?

Lama ga buka blog lagi, rasanya angker banget ga di huni. Huhu
Ehmmm.. kali ini pengen posting puisi lagi. Ah tapi entah disebut puisi atau bukan. Hihihi
Gimana engga, puisi ini saya bikin 15 menit dengan asal-asalan. Ya waktu itu iseng ikut tantangan bikin puisi di grup FB, temanya tentang cinta. Huaaa.. aku tak tau hakikat cinta yang sesungguhnya, akhirnya jadilah puisi ini. Mungkin bukan puisi kali ya, karena saya rasa tak ada 'ruh' di dalamnya. Benar-benar asal :D
Daripada jadi konsumsi pribadi, tak ada salahnya ngeposting di blog.
Cekidooooootttt..... ==>

Cinta cinta cinta
Aku tak paham dengan goresan cinta
Cinta cinta cinta
Aku belum ingin mengusik kata
Cinta cinta cinta
Yang aku tau cinta itu senja
Cinta cinta cinta
Bagiku senja adalah cinta
Cinta senja, senja cinta

Melukis jingga di kala senja
Menapak cinta dalam aroma kata
Membisik mesra penuh irama
Pada dia sang belahan jiwa

Dengan senja aku bertanya cinta
Dalam senja aku mengukir kisah
Untuk senja aku menanti setia
Senja cinta, cinta senja

Template, sebuah pilihan

Template pada sebuah blog bisa menjadi daya tarik atau mungkin daya mundur kali ya para pembaca. Bagi saya seorang blogger baru, sebuah template itu benar-benar memusingkan. Greget, gemesin.
Gimana engga, tiap blogwalking template para blogger keren-keren abis. Terutama senior yang sudah jago ngeblog.
Beberapa hari ini saya di pusingkan tepatnya memusingkan diri mencari template yang cocok bin pas bin apik bin unik. Mulai dari mengotak-atik template yang di sediakan tim blog. Sebenarnya banyak yang di incar. Ya karena terlalu banyak yang di incar bingung pilih-pilih, akhirnya berujung dengan kejenuhan melihatnya. Lemotnya si Kompi juga mendukung untuk tidak mengotak-atik template lagi yang sering error dengan sendirinya.
Kemudian gugling mencari template yang bisa di download. Lagi-lagi saya terlena degan banyaknya template yang cakep. Benar-benar memakan waktu!
Waktu luang yang saya niatkan untuk ngeblog justru terbuang sia-sia karena mencari sebuah template. Sialnya, sudah ada beberapa template yang terpilih justru GAGAL di pakai. Entah karena kompi yang owol atau internetnya yang dobol saya selalu gagal menggunakan template hasil downloadan.

Dengan sangat terpaksa akhirnya harus meminta bantuan teman saya yang sudah melanglang buana dalam dunia blog-blogan.
Taraaaaaaaa.... dan ini template saya yang baru, si simplo namanya.


Simple dan sedikit feminim, itulah yang saya suka dari template sekarang ini. Meskipun banyak template yang bagus namun menurut saya terlalu ramai. Toh sebuah blog bukan hanya kita saja yang melihatnya. Bisa saja kita suka dengan yang lainnya, tapi justru pembaca merasa tidak nyaman dan risih melihat template blog kita yang ramai full warna atau gelap bernuansa misteri.

Pilihan tetaplah pilihan. Selalu terselip kekurangan dari sebuah kelebihan yang terpancar. Hal yang saya kurang puas dengan si Simplo ini tidak munculnya pilihan postingan yang bisa di bagikan ke facebook, twitter dll.
Nyesel? tidak juga. Mungkin saya bisa meminta bantuan teman saya lagi atau belajar sendiri mencari template yang benar-benar nyangkut di hati saya. Hihihi

So, inti dari postingan ini adalah tidak selalu apa yang kita pilih itu 100% baik dan memuaskan. Pasti ada cela atau resiko yang menghampiri meski seujung jari, dan tentunya kita harus menerimanya. Selain itu, kesukaan/kenyamanan yang kita rasakan belum pasti membuat orang lain sama seperti kita atau mungkin mereka merasakan sebaliknya. Hargai hak orang lain dan bersikaplah lebih peka. :-)

Salam Santun!