Hikmawati, amanah Tuhan untuk “sepasang bidadari”.
Menoreh tinta pada lembar suci. Merangkul pena di ujung jemari.
Meski hati dan imajinasi terus berteriak. Selalu ada kebisuan yang menahan tiap ucap.
Aku, dengan pikiran yang terus membelenggu. Hanya aksara yang mampu melepas semua ucap tanpa ragu.
Saat kau melihat ini, semoga ada jejak yang menapak. Meski bukan sajak ataupun kata bijak.
Salam santun, Hikmawati! (awal 2014)