Setelah sekian bulan gak nge-blog, kali ini mau coba ikut event nulis surat terbuka untuk rektor baru yang di adakan LPM INSTITUT UIN Syahid Jakarta.
Bismillah, semoga masih dalam kode etik :D
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Salam Takzim Untukmu, Nakhoda baru kami di Kampus Peradaban Islam
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Sebelum berceloteh hambar, izinkan ‘hamba’ mengulur tangan memintamu untuk melirik barang sekilas saja. Bisa dibilang, 'hamba' hanyalah bibit yang baru saja tertanam di semesta Peradaban Islam ini. Yang bahkan ketika perdana menapaki kaki, tersorot netra pada gedung-gedung yang menjulang tinggi tanpa kepongahan dan hingar-bingarnya lautan manusia penuh warna.
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Sebagai bibit yang baru ditanam, bisa apa ‘hamba’ ini pak? Teman tak banyak, wawasan terbatas, aktifitas monoton apalagi prestasi, NOL!
Ketika OPAK, taukah Bapak siapa yang paling ‘hamba’ cari? REKTOR Kampus Peradaban Islam! ‘Hamba’ bertanya-tanya seperti apa rektor di kampus ini. Bagaimana sosok pak Komaruddin Hidayat yang baru ‘hamba’ tahu dialah Sang Rektor. Mungkinkah ‘hamba’ bisa melihatnya secara dekat, karena rasanya masih mustahil jika ‘hamba’ yang masih bibit baru ini untuk bisa ber-say hello dengannya.
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Hari terus berlari, kian lama ‘hamba’ mulai bisa beradaptasi di Kampus Peradaban Islam ini. Namun, tak jua ‘hamba’ temukan sosok rektor di tiap sudut kampus. Perdana dan terakhir lihat pun kala upacara pembukaan OPAK di lapangan sana. Dengan lautan manusia dan teriknya matahari, ‘hamba’ tidak terlalu jelas mendengar bait-bait sambutannya. Dari kejauhan, ‘hamba’ mengamati ketika beliau di kawal begitu ketat. “Oh, ternyata seperti itu sosok rektorku.”
Kemana saja beliau? Mungkin dia begitu sibuk dengan jam terbangnya yang tinggi. Atau, bisa saja dia sudah sangat nyaman duduk di singgasana rektor yang terkesan begitu pongah jika terlihat dari luar. “Pak, ingin sekali rasanya bibit yang baru tertanam ini memasuki ruang itu.”
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Entah senang atau sedih, ketika ‘hamba’ mendengar bahwa Kampus Peradaban Islam tercinta ini akan mengadakan transisi pergantian rektor baru.
Sedih, karena ‘hamba’ masih belum merasakan efek dari sosok rektor. Bagaimana karakternya, apa saja kebijakan-kebijakannya serta bagaimana gaya kepemimpinannya selama dua periode menakhodai semesta UIN Jakarta yang kini berjuluk Kampus Peradaban Islam.
Senang, karena jika ada rektor baru akan ada harapan-harapan baru yang bersemi. Memunculkan asa untuk lebih bisa mengenal sosok pemimpin ‘hamba’. Bukankah pemimpin baru lahir bersama sejuta harapan baru? Berharap itu tak sekedar bualan tanpa dosa.
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Dari bibit yang baru saja tertanam, ‘hamba’ ucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai rektor baru kami periode 2015-2019. Semoga syukur dan tawaduk menghiasi hati Bapak sebagai ‘pemenang’.
Pak, tentu banyak asa dan cita-cita yang membinari netra kami pada Bapak. ‘Hamba’ hanya satu dari dua puluh ribu mahasiswa yang ingin langsung menyampaikan semua itu lewat deretan aksara hambar ini.
Pak, lewat kisah yang terukir tadi semoga Bapak bisa memahami seperti apa keinginan kami terhadap Bapak. Kami ingin di rangkul. Kami ingin mendapat bimbingan dan perhatian lebih intim. Kami ingin diboyong bersama mendaki puncak-puncak emas.
Padamu, Prof. Dr. Dede Rosyada!
Melihat rancangan visi-misi Bapak terhadap UIN memunculkan kerut di dahi ‘hamba’. ‘Hamba’ setuju dengan visi-misi Bapak mengenai channel-channel yang ingin Bapak perluas di kancah internasional, sebab itulah hak pemimpin. Hanya saja, terlihat dari situ jika Bapak lebih ingin memberdayakan para dosen. Lalu bagaimana dengan para mahasiswanya?
‘Hamba’ khawatir jika Bapak memfokuskan pada para dosen untuk Go internasional, lalu Bapak lupa dengan kami aktor terpenting di kampus ini. ‘Hamba’ sepakat jika pengalaman akademik dosen meningkat maka akan menguntungkan mahasiswa juga. Namun, cobalah Bapak berpikir sejenak.
Sekali lagi ‘hamba’ katakan, kami ingin lebih dirangkul Pak.
Padamu, Prof. dr. Dede Rosyada!
Lewat organisasi, UKM, LSO maupun komunitas di kampus kami bereksplorasi. Meretas kreatifitas tanpa batas. Lewat seminar dan diskusi publik kami beropini. Mengkritisi kejanggalan dinamika dunia. Lewat pengajaran kami belajar di kelas. Mencari bekal ilmu untuk kemaslahatan bersama.
Mampirlah sebentar saja Pak. Pintu selalu terbuka, menanti dengan setia nakhoda untuk sekedar menyapa.
Salam rindu untuk pemimpin baru, dari bibit yang belum lama tertanam di semesta Peradaban Islam!
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surat Terbuka untuk Rektor Anyar: Mahasiswa perlu Rangkulan
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
10:35
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
16:07
Its.. oke, Aku kembali datang :-) Setelah sekian lama terperangkap dalam kebuntuan aksara. Hiks :-(
Lagi! Kali ini masih tentang kerinduan. Satu hal yang terkesan klasik, namun selalu jadi hal yang menarik ^_^
(PUISI)
KENANG MEMORI USANG
Mungkinkah hanya memori usang
Menggelora selaksa mentari siang
Menjerit menunggu sang petang
Juga malam kelam meraba bintang
Aku benci bengisnya waktu
kala merekam bait keindahan
Tawa, tangis berbalut kemesraan
pernah kita cumbu pada lembar biru
Pernahkah kau bertanya pada semilir angin
tentang satu hal yang ku ingin
Maukah kau berbisik pada rembulan
menyampaikan rerasa yang tersimpan
Bicaralah pada harum tanah
katakan! Belenggu ini buatku resah
Ini hanyalah rasa yang membatu
membelenggu pada lidah yang kelu
Biar ku sampaikan pada Pemilik Waktu
mengharap tak sekedar baitbait semu
Memori usang
Melayang
Kenang
Indah
Ah!
Hometown, 12 April '14
Lagi! Kali ini masih tentang kerinduan. Satu hal yang terkesan klasik, namun selalu jadi hal yang menarik ^_^
(PUISI)
KENANG MEMORI USANG
Mungkinkah hanya memori usang
Menggelora selaksa mentari siang
Menjerit menunggu sang petang
Juga malam kelam meraba bintang
Aku benci bengisnya waktu
kala merekam bait keindahan
Tawa, tangis berbalut kemesraan
pernah kita cumbu pada lembar biru
Pernahkah kau bertanya pada semilir angin
tentang satu hal yang ku ingin
Maukah kau berbisik pada rembulan
menyampaikan rerasa yang tersimpan
Bicaralah pada harum tanah
katakan! Belenggu ini buatku resah
Ini hanyalah rasa yang membatu
membelenggu pada lidah yang kelu
Biar ku sampaikan pada Pemilik Waktu
mengharap tak sekedar baitbait semu
Memori usang
Melayang
Kenang
Indah
Ah!
Hometown, 12 April '14
"Senja Cinta, Cinta Senja", Puisikah?
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
14:32
Lama ga buka blog lagi, rasanya angker banget ga di huni. Huhu
Ehmmm.. kali ini pengen posting puisi lagi. Ah tapi entah disebut puisi atau bukan. Hihihi
Gimana engga, puisi ini saya bikin 15 menit dengan asal-asalan. Ya waktu itu iseng ikut tantangan bikin puisi di grup FB, temanya tentang cinta. Huaaa.. aku tak tau hakikat cinta yang sesungguhnya, akhirnya jadilah puisi ini. Mungkin bukan puisi kali ya, karena saya rasa tak ada 'ruh' di dalamnya. Benar-benar asal :D
Daripada jadi konsumsi pribadi, tak ada salahnya ngeposting di blog.
Cekidooooootttt..... ==>
Cinta cinta cinta
Aku tak paham dengan goresan cinta
Cinta cinta cinta
Aku belum ingin mengusik kata
Cinta cinta cinta
Yang aku tau cinta itu senja
Cinta cinta cinta
Bagiku senja adalah cinta
Cinta senja, senja cinta
Melukis jingga di kala senja
Menapak cinta dalam aroma kata
Membisik mesra penuh irama
Pada dia sang belahan jiwa
Dengan senja aku bertanya cinta
Dalam senja aku mengukir kisah
Untuk senja aku menanti setia
Senja cinta, cinta senja
Ehmmm.. kali ini pengen posting puisi lagi. Ah tapi entah disebut puisi atau bukan. Hihihi
Gimana engga, puisi ini saya bikin 15 menit dengan asal-asalan. Ya waktu itu iseng ikut tantangan bikin puisi di grup FB, temanya tentang cinta. Huaaa.. aku tak tau hakikat cinta yang sesungguhnya, akhirnya jadilah puisi ini. Mungkin bukan puisi kali ya, karena saya rasa tak ada 'ruh' di dalamnya. Benar-benar asal :D
Daripada jadi konsumsi pribadi, tak ada salahnya ngeposting di blog.
Cekidooooootttt..... ==>
Cinta cinta cinta
Aku tak paham dengan goresan cinta
Cinta cinta cinta
Aku belum ingin mengusik kata
Cinta cinta cinta
Yang aku tau cinta itu senja
Cinta cinta cinta
Bagiku senja adalah cinta
Cinta senja, senja cinta
Melukis jingga di kala senja
Menapak cinta dalam aroma kata
Membisik mesra penuh irama
Pada dia sang belahan jiwa
Dengan senja aku bertanya cinta
Dalam senja aku mengukir kisah
Untuk senja aku menanti setia
Senja cinta, cinta senja
Template, sebuah pilihan
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
15:45
Template pada sebuah blog bisa menjadi daya tarik atau mungkin daya mundur kali ya para pembaca. Bagi saya seorang blogger baru, sebuah template itu benar-benar memusingkan. Greget, gemesin.
Gimana engga, tiap blogwalking template para blogger keren-keren abis. Terutama senior yang sudah jago ngeblog.
Beberapa hari ini saya di pusingkan tepatnya memusingkan diri mencari template yang cocok bin pas bin apik bin unik. Mulai dari mengotak-atik template yang di sediakan tim blog. Sebenarnya banyak yang di incar. Ya karena terlalu banyak yang di incar bingung pilih-pilih, akhirnya berujung dengan kejenuhan melihatnya. Lemotnya si Kompi juga mendukung untuk tidak mengotak-atik template lagi yang sering error dengan sendirinya.
Kemudian gugling mencari template yang bisa di download. Lagi-lagi saya terlena degan banyaknya template yang cakep. Benar-benar memakan waktu!
Waktu luang yang saya niatkan untuk ngeblog justru terbuang sia-sia karena mencari sebuah template. Sialnya, sudah ada beberapa template yang terpilih justru GAGAL di pakai. Entah karena kompi yang owol atau internetnya yang dobol saya selalu gagal menggunakan template hasil downloadan.
Dengan sangat terpaksa akhirnya harus meminta bantuan teman saya yang sudah melanglang buana dalam dunia blog-blogan.
Taraaaaaaaa.... dan ini template saya yang baru, si simplo namanya.
Simple dan sedikit feminim, itulah yang saya suka dari template sekarang ini. Meskipun banyak template yang bagus namun menurut saya terlalu ramai. Toh sebuah blog bukan hanya kita saja yang melihatnya. Bisa saja kita suka dengan yang lainnya, tapi justru pembaca merasa tidak nyaman dan risih melihat template blog kita yang ramai full warna atau gelap bernuansa misteri.
Pilihan tetaplah pilihan. Selalu terselip kekurangan dari sebuah kelebihan yang terpancar. Hal yang saya kurang puas dengan si Simplo ini tidak munculnya pilihan postingan yang bisa di bagikan ke facebook, twitter dll.
Nyesel? tidak juga. Mungkin saya bisa meminta bantuan teman saya lagi atau belajar sendiri mencari template yang benar-benar nyangkut di hati saya. Hihihi
So, inti dari postingan ini adalah tidak selalu apa yang kita pilih itu 100% baik dan memuaskan. Pasti ada cela atau resiko yang menghampiri meski seujung jari, dan tentunya kita harus menerimanya. Selain itu, kesukaan/kenyamanan yang kita rasakan belum pasti membuat orang lain sama seperti kita atau mungkin mereka merasakan sebaliknya. Hargai hak orang lain dan bersikaplah lebih peka. :-)
Salam Santun!
Gimana engga, tiap blogwalking template para blogger keren-keren abis. Terutama senior yang sudah jago ngeblog.
Beberapa hari ini saya di pusingkan tepatnya memusingkan diri mencari template yang cocok bin pas bin apik bin unik. Mulai dari mengotak-atik template yang di sediakan tim blog. Sebenarnya banyak yang di incar. Ya karena terlalu banyak yang di incar bingung pilih-pilih, akhirnya berujung dengan kejenuhan melihatnya. Lemotnya si Kompi juga mendukung untuk tidak mengotak-atik template lagi yang sering error dengan sendirinya.
Kemudian gugling mencari template yang bisa di download. Lagi-lagi saya terlena degan banyaknya template yang cakep. Benar-benar memakan waktu!
Waktu luang yang saya niatkan untuk ngeblog justru terbuang sia-sia karena mencari sebuah template. Sialnya, sudah ada beberapa template yang terpilih justru GAGAL di pakai. Entah karena kompi yang owol atau internetnya yang dobol saya selalu gagal menggunakan template hasil downloadan.
Dengan sangat terpaksa akhirnya harus meminta bantuan teman saya yang sudah melanglang buana dalam dunia blog-blogan.
Taraaaaaaaa.... dan ini template saya yang baru, si simplo namanya.
Simple dan sedikit feminim, itulah yang saya suka dari template sekarang ini. Meskipun banyak template yang bagus namun menurut saya terlalu ramai. Toh sebuah blog bukan hanya kita saja yang melihatnya. Bisa saja kita suka dengan yang lainnya, tapi justru pembaca merasa tidak nyaman dan risih melihat template blog kita yang ramai full warna atau gelap bernuansa misteri.
Pilihan tetaplah pilihan. Selalu terselip kekurangan dari sebuah kelebihan yang terpancar. Hal yang saya kurang puas dengan si Simplo ini tidak munculnya pilihan postingan yang bisa di bagikan ke facebook, twitter dll.
Nyesel? tidak juga. Mungkin saya bisa meminta bantuan teman saya lagi atau belajar sendiri mencari template yang benar-benar nyangkut di hati saya. Hihihi
So, inti dari postingan ini adalah tidak selalu apa yang kita pilih itu 100% baik dan memuaskan. Pasti ada cela atau resiko yang menghampiri meski seujung jari, dan tentunya kita harus menerimanya. Selain itu, kesukaan/kenyamanan yang kita rasakan belum pasti membuat orang lain sama seperti kita atau mungkin mereka merasakan sebaliknya. Hargai hak orang lain dan bersikaplah lebih peka. :-)
Salam Santun!
Bersama di MedSos CariCommunity.com
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
14:32
Sosial media kini semakin marak, cetar membahana badai menggelegar. Tidak seperti dulu, saya baru mulai mengenal sosial media ketika masih duduk di SMP dan itupun baru sebatas facebook. Lain halnya di zaman korupsi seperti sekarang, eh di zaman yang penuh awesome maksud saya. Ya di zaman awesome (baca: mengagumkan) kayak sekarang ini anak SD saja sudah punya facebook, twitter dan seabrek medsos lainnya. Jadi inget sebuah tulisan di baju keponakan saya yang berumur 2 tahunan "Kecil-kecil sudah punya facebook". Nah lo..??
Itulah realita yang ada. Media sosial menjadi magnet yang begitu kuat bagi para penjelajah internet. Tapi sadarkah kita? media sosial justru hanya terfokus pada individu saja. Contoh saja facebook. Pemilik akun facebook hanya satu orang kan? dari sektor perorangan tersebut, muncul inovasi media sosial baru yang di sebut dengan CariCommunity.com.
Apa itu CariCommunity? CariCommunity adalah sebuah medsos baru. Media sosial yang berbeda dari yang lainnya. Medsos ini terfokus pada komunitas atau kegiatan bersama.
Media sosial yang didirikan oleh dua orang veteran entrepeneur Wun Fie Loa dan Andi Sjamsu ini begitu mudah di gunakan. karena kita tidak perlu mengerti like, retweet, share, mention dan seabreg hal rumit lainnya seperti di medsos lain. Tertarik? saya juga :-)
Selain kemudahan yang di sediakan, ada fitur-fitur yang menguntungkan dari CariCommunity ini. Ini sekilas detailnya:
1. Grup Engagement Bonus (GEB). Bonus ini diberikan kepada semua grup yang ikut membesarkan dan men-sukseskan CariCommunity. Perusahaan akan memberikan persentase bonus kepada grup-grup sebagai keuntungan pendapatannya, yaitu kepada grup-grup yang telah membantu untuk membesarkan perusahaannya. Bonus akan diterima secara pro-rata setiap bulan.
2. Diciptakan Regional Empowerment Fund (REF). REF merupakan dana tabungan, di mana setiap bulan CariCommunity akan menambahkan dana tabungan regional dalam jumlah yang setara dengan total sumbangan bonus untuk semua grup-grup regional itu. Contohnya, Regional DKI Jakarta, ada 1.000 grup, dan setiap grup rata-rata menerima GEB (#1 diatas) Rp 50.000 pada satu bulan, maka CariCommunity akan menambah Rp 50 juta ke dana tabungan Regional DKI pada bulan itu. Nah, grup-grup yang berada di wilayah DKI bisa mengajukan permintaan sumbangan ke CariCommunity melalui (REF), misalnya untuk memberikan santunan berupa buku kepada anak-anak yatim piatu.
Saya yakin kita semua pasti memiliki komunitas, bahkan lebih dari satu. Nah, ada baiknya jika kalian bergabung di CariCommunity.com, dan ajak komunitas kalian merasakan asyiknya media sosialnya para komunitas.
Bersama, membuatmu bahagia. Salam Santun! :-)
Kubu Kalbu
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
13:22

Yaa muqollibal quluub
Wahai Zat pembalik kalbu
Futur... reduksi Nur
Aku, mulai tersungkur
Tak ada syukur, hanya kufur
Merindu iman yang kabur
Tafakur, ingat kubur
Hancur!
Yaa muqollibal quluub
Wahai Zat pembalik kalbu
Hamasah... sebilah Anugrah
Aku, tak pasrah
Meniti Nur, terarah
Kepal jemari, penuh gairah
Padamkan, lawan amarah
Demi hayat, mengalun berkah
Yaa muqollibal quluub
Wahai Zat pembalik kalbu
Tsabbit qolbii 'alaa diinik
Teguhkan hati pada din-Mu
Wa 'alaa thoo'athik
Dan tiap taat atas-Mu
Mengeluh bukan Cerita
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
14:33
Bedakan antara cerita dan mengeluh..!!!!
Bismillah...
Aku sangat bahagia jika ada orang lain yang mau bercerita, apalagi sampai meminta saran ataupun solusi. Karena dengan itu, aku sebagai manusia sosial merasa ada diantara kehidupan mereka.
Hanya saja yang aku sesali kadang mereka bukan ingin bercerita, namun lebih condong MENGELUH. Ya, mengeluh. Mendengar satu kata itu kadang membuat indra pendengaranku risih.
Tidak masalah kita mengeluh, apalagi jika kita merasa sudah tak kuat menahan sebuah beban atau tekanan. Bahkan jika sudah mencapai titik kulminasi ingin rasanya segera berbagi kepada orang lain, meminta saran atau hanya sekedar mendengar 'celoteh' kita.
Bukan maksud ingin berbagi keburukan orang lain, ya semoga saja yang membaca ini bisa mengambil senokta ibrah.
Belum lama ini aku begitu jenuh bahkan muak mendengar 'koaran' seseorang. Awalnya aku merespon dengan baik, bahkan memberi sedikit saran dan bentuk kepedulian atas ceritanya. Entah kenapa, lama-kelamaan orang tersebut masih terus 'berkoar' dengan tema yang sama bahkan cenderung dengan nada marah. "Aku sih cuek," (meniru celoteh yang banyak remaja ucapkan sekarang). Karena ku pikir sudah berkali-kali aku mendengarnya. Tak sekedar nada amarah, yang lebih aku tak suka dia terus menyalahkan orang lain, bisa di bilang men 'judge' gitu deh. Na'uudzubillah.
Aku rasa selain karena beban yang ia miliki, ada rasa kegelisahan dan kurangnya bentuk syukur.
Bukankah kita punya TUHAN? "Jika tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk kita bersujud"(Mario Teguh).
Aku manusia biasa, mungkin akan merasa jengkel jika terus mendengar keluhan-keluhan yang menunjukkan ketidaksyukuran atas sesuatu. Tidak seperti Tuhan, DIA satu-satunya tempat terhebat untuk melampiaskan segala kegelisahan dan kekecewaan kita terhadap dunia fana ini. Bahkan DIA akan lebih 'merangkul', jika hanya DIA yang kita jadikan tempat untuk terus mendengarkan tiap 'keluhan' kita yang mungkin bisa menjengkelkan manusia lain.
So, mari terus bersyukur. Nikmatilah apa yang saat ini kita miliki. :-)
Salam Santun!
Bismillah...
Aku sangat bahagia jika ada orang lain yang mau bercerita, apalagi sampai meminta saran ataupun solusi. Karena dengan itu, aku sebagai manusia sosial merasa ada diantara kehidupan mereka.
Hanya saja yang aku sesali kadang mereka bukan ingin bercerita, namun lebih condong MENGELUH. Ya, mengeluh. Mendengar satu kata itu kadang membuat indra pendengaranku risih.
Tidak masalah kita mengeluh, apalagi jika kita merasa sudah tak kuat menahan sebuah beban atau tekanan. Bahkan jika sudah mencapai titik kulminasi ingin rasanya segera berbagi kepada orang lain, meminta saran atau hanya sekedar mendengar 'celoteh' kita.
Bukan maksud ingin berbagi keburukan orang lain, ya semoga saja yang membaca ini bisa mengambil senokta ibrah.
Belum lama ini aku begitu jenuh bahkan muak mendengar 'koaran' seseorang. Awalnya aku merespon dengan baik, bahkan memberi sedikit saran dan bentuk kepedulian atas ceritanya. Entah kenapa, lama-kelamaan orang tersebut masih terus 'berkoar' dengan tema yang sama bahkan cenderung dengan nada marah. "Aku sih cuek," (meniru celoteh yang banyak remaja ucapkan sekarang). Karena ku pikir sudah berkali-kali aku mendengarnya. Tak sekedar nada amarah, yang lebih aku tak suka dia terus menyalahkan orang lain, bisa di bilang men 'judge' gitu deh. Na'uudzubillah.
Aku rasa selain karena beban yang ia miliki, ada rasa kegelisahan dan kurangnya bentuk syukur.
Bukankah kita punya TUHAN? "Jika tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk kita bersujud"(Mario Teguh).
Aku manusia biasa, mungkin akan merasa jengkel jika terus mendengar keluhan-keluhan yang menunjukkan ketidaksyukuran atas sesuatu. Tidak seperti Tuhan, DIA satu-satunya tempat terhebat untuk melampiaskan segala kegelisahan dan kekecewaan kita terhadap dunia fana ini. Bahkan DIA akan lebih 'merangkul', jika hanya DIA yang kita jadikan tempat untuk terus mendengarkan tiap 'keluhan' kita yang mungkin bisa menjengkelkan manusia lain.
So, mari terus bersyukur. Nikmatilah apa yang saat ini kita miliki. :-)
Salam Santun!
RENTA
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
01:40
Hijau, laun menggugur coklat
Sayu, tangisan nakal menjamah keringat
Mengusap daki dengan mesra
Memberi pangan, sandang tanpa nota
Demi para kecil, menuntun hingga dewasa
Senja masih terus mewarna jingga
Terpapah sisa di kursi tua
Menerawang para kecil, bangga
Di sana, di kota, di surga, dimana-mana
meninggalkannya di gubuk renta
Pulanglah, kursi tua menunggu setia
Mampirlah, pintu keropos terbuka nganga
Singgahlah, masih ada aksara tersisa
Di gubuk renta, tempat kita Nak!
Ketika hidup merenta
Hanya sapa anak yang diminta
Di gubuk tua, sebelum ke surga
Ingatkan kami untuk terus menyapa mereka, di gubuk renta |PERANTAUAN|
Sayu, tangisan nakal menjamah keringat
Mengusap daki dengan mesra
Memberi pangan, sandang tanpa nota
Demi para kecil, menuntun hingga dewasa
Senja masih terus mewarna jingga
Terpapah sisa di kursi tua
Menerawang para kecil, bangga
Di sana, di kota, di surga, dimana-mana
meninggalkannya di gubuk renta
Pulanglah, kursi tua menunggu setia
Mampirlah, pintu keropos terbuka nganga
Singgahlah, masih ada aksara tersisa
Di gubuk renta, tempat kita Nak!
Ketika hidup merenta
Hanya sapa anak yang diminta
Di gubuk tua, sebelum ke surga
Ingatkan kami untuk terus menyapa mereka, di gubuk renta |PERANTAUAN|
TITIK
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
14:13
Perlahan… ku hembuskan nafas-MU
Sepenuh paru, merasakan aroma kehidupan
Lagi, dan kini ku sadari
Aku mencari jiwa yang hilang!
Terjebak…
Ku tengok kiri kanan, tak ada jalan
Buntukah? Kemana aku mengetuk pintu
Berjalan, tak kutemukan jawaban
Merangkak, tak kutemukan yang di benak
Berlari, tak kutemukan yang dicari
Berfikir, hanya membuatku semakin fakir,
Fakir di hadapan-MU!
Sebuah titik, aku menemukannya
Di seberang sana, samar terlihat
Perlahan ku dekati, selidik penuh pasti
Tegak berdiri, mengkerutkan dahi
Inikah?Semoga!
Sepenuh paru, merasakan aroma kehidupan
Lagi, dan kini ku sadari
Aku mencari jiwa yang hilang!
Terjebak…
Ku tengok kiri kanan, tak ada jalan
Buntukah? Kemana aku mengetuk pintu
Berjalan, tak kutemukan jawaban
Merangkak, tak kutemukan yang di benak
Berlari, tak kutemukan yang dicari
Berfikir, hanya membuatku semakin fakir,
Fakir di hadapan-MU!
Sebuah titik, aku menemukannya
Di seberang sana, samar terlihat
Perlahan ku dekati, selidik penuh pasti
Tegak berdiri, mengkerutkan dahi
Inikah?Semoga!
Senyum Lengkung Pelangi
Diposting oleh
Hikmawati Chotyun
di
13:03
“Ada pelangi.. ada pelangiiiiiiiii....”
“lihat pelangi bagus banget”
“Iya itu cantik sekali”
Aku yang sedang sibuk di dapur sangat kaget mendengar keriuhan di luar. Bukan, bukan karena suara berisik anak-anak yang hendak berangkat sekolah yang mengganggu acaraku di dapur pagi itu. Tapi celotehan mereka tentang adanya pelangi. Pelangi!
Meski ragu akupun keluar rumah.
“Ada pelangi mba? Dimana dimana?” sungguh jika diamati, mataku tak kalah berbinar bagai pelangi di langit pagi itu.
Samar, warna pelangi yang terkenal dengan MEJIKUHIBINIU itu sudah terlihat menghilang. Bahkan nyaris menghilang. Meski begitu, aku terus menatap pelangi itu, menengadah ke langit tanpa menoleh. Membiarkan curahan langit terus menyerbu kulit.
“Itu pelangi separuhnya lagi kemana ya?”
tersentak aku mendengar pertanyaan tetangga yang sama-sama menikmati panorama indah itu. Mataku menyipit mencari jawaban.
“kok?” pertanyaan bodoh yang justru kulontarkan.
“iya, pelangi kan bentuknya lingkaran. Pasti masih ada separuhnya lagi.”
Aku hanya tersenyum simpul dan menyadari ketidaktahuanku. Bagaimana bisa, aku yang dulu pernah menjadi anak IPA ketika dibangku SMA justru tak memahami tentang bentuk pelangi. Bagiku ini adalah ilmu. Dan aku semakin penasaran dengan bentuk pelangi itu. Pelangi, kata benda yang telah kurindukan beberapa tahun ini. Sambil berimajinasi mencari jawaban aku teringat petuah yang pernah guruku bilang. Teruslah mencari ilmu. Semakin banyak kau tau, maka semakin banyak pula yang tidak kau tau.
Ternyata pagi itu pelangi menyambut tangisan langit yang hangat. Dengan pisau dapur yang masih tergenggam aku kembali masuk ke rumah. Hanya beberapa menit ku tinggalkan ternyata ada makhluk tak di undang yang mampir ke dapurku. Kucing liar dengan bulu hitam putih layaknya Zebra begitu asyik nangkring di atas kompor. Owalah dalalah, ternyata satu buah dada ayam goreng telah di caploknya. “Yummi.. yummi… yummi.. nikmat sekali. Rezeki emang kaga kemana”. Jika aku bisa berbahasa hewan, mungkin itulah yang sedang diucapkan si Meong sambil menyantap sarapan paginya yang super lezaaaaatt. Inilah hidup. Kadang kita harus berbagi tidak hanya untuk sesama, melainkan kepada makhluk Tuhan lainnya. Jika si Meong tidak mengambilnnya sendiri, belum tentu kita mau berbagi rezeki Tuhan dengan hewan kesayangan Nabi tersebut.
Pagi itu dalam keadaan belum mandi, aku mengenakan baju polos berwarna abu-abu dengan celana dan kerudung berwarna cerah kuning dan biru. Begitu senada dengan gambaran indah tadi. Abu-abu, warna kelabu yang menandakan langit sedang tak bersahabat. Serta kuning dan biru, dua dari tujuh warna yang dimiliki pelangi yang baru ku tau ternyata berbentuk lingkaran. Aih, andai hidupku seindah pelangi.
Sambil terus membayangkan si MEJIKUHIBINIU aku kembali menyelesaikan acara di dapur dengan penuh gairah. Sungguh, tak kusangka hari ini akan hadir. Menatap mentari pagi, berhiaskan pelangi di bumi pertiwi. Meski berwarna samar, aku tetap menanti dengan mata berbinar. Tak sekedar imajinasi, aku sudah melihatnya dengan pasti.
Tak henti, senyum lengkung terus menghiasi sepanjang dua senti. Senyum indah yang makin melengkung, tak ubahnya lengkungan pelangi indah di pagi.
Masih dengan senyum dua senti, aku bergegas mandi.
Ku sadari, ada yang menatapku heran tak mengerti. Aku hanya tersenyum geli tak peduli.
***
Panas, semakin meranggas. Terik matahari membuat suhu semakin tinggi. Tak seperti pagi tadi, meski tak bersahabat aku tetap mengikat erat kejadian yang tak terlewat. Merangkai kata layaknya sang pujangga. Mengingat momen yang pernah tercipta. Akulah gadis perindu pelangi, yang tak akan pergi meski badai menghampiri. Meski gemuruh hadir silih berganti, aku tak akan lelah untuk menanti. Pasti!
Jam 12 siang sudah lewat. Panasnya mentari membuatku ingin istirahat. Meski sejenak, untuk sekedar menghilangkan penat.
Aku menggenggam ponsel mungil berwarna pink. Ponsel yang kubeli satu setengah tahun lalu ketika masih dibangku SMA. Bagiku ini ponsel kebanggaan. Bagaimana tidak, aku membelinya dengan uang sendiri. Berusaha mandiri tanpa selalu merepotkan orang tua.
Akhir-akhir ini waktuku sering tersita untuk membuka jejaring sosial facebook. Jika banyak opini negatif tentang facebook, bagiku tidak. Itu relatif. Jika kita mau memanfaatkannya dengan baik, ada banyak hal positif dan pelajaran yang bisa kita dapat. Tentunya jika pintar menggunakan dengan bijak.
Iseng aku membuka profil FB teman. Sekedar mencari tau keadaannya tanpa harus bertanya gamblang. Rupanya dia baru saja meng-upload beberapa foto. Satu, dua foto kuperhatikan tanpa irama, santai sembari bersandar di sofa. Eeiiitttt.. aku mulai terbelalak, mataku melotot menbentuk oval nyaris sempurna. Satu foto yang membuatku kaget. Aku masih ragu dengan mata ini, lalu kuperbesar foto tersebut dan mengamati layaknya para peneliti. Ada pelangi, benar pelangi yang tadi pagi juga kulihat. Dan dia temanku, berdiri gagah dengan latar belakang pelangi cantik yang samar. Sama seperti yang ku lihat tadi pagi. Aku masih tak percaya. Dulu, sekitar 2 bulan aku pernah berkata padanya bahwa aku begitu merindukan pelangi. Merindukan penghujung senja di pinggir sawah. Menanti pelangi dengan mata polos tak berkedip.
“Aku, Sang Perindu Pelangi”.
Dan dia berceloteh asal, “sepertinya bagus jika itu dijadikan novel. Nanti aku yang jadi penggemar beratmu deh”.
Aku hanya menyeringai kuda. “jika kelak kau melihat pelangi, kumohon abadikan momen indah itu”.
Dan hari ini saat aku benar-benar melihatnya, kaupun telah mengabadikan pelangi indah. Pelangi senja yang melengkung anggun. Kau berdiri gagah dengan mengacungkan jempol kanan sembari melengkungkan senyum khasmu. Hatiku makin berdesir ketika kau berkomentar dalam foto itu “kemarin siapa yang pesan minta di fotoin pelangi”.
Ingin rasanya aku merangkai aksara untukmu. Berucap alunan syukur untuk hari ini. Menjawab penuh pasti komentarmu dengan kata “AKU”. Namun kusadari bahwa aku tak bisa menjawab komentarmu. Ah, andai saja aku mampu berkomentar.............
Aku kembali tersenyum lengkung.
6-2-2014 | Realita di hari lima (magnet)

Langganan:
Postingan (Atom)



